Langsung ke konten utama

Covid19 dan prilaku komunikasi masyarakat

COVID-19 DAN PRILAKU KOMUNIKASI MASYARAKAT
Berangkat dari infeksi pneumonia misterius yang ditemukan disebuah pasar hewan Huanan di Wuhan, yang menjual berbagai jenis daging hewan, termasuk hewan yang tak lazim dimakan dagingnya seperti ular, tikus, kelelawar dan lain sebagainya. 
Tidak lama kemudian menyebar keberbagai negara-negara, termasuk Indonesia. Dikutip dari Merdeka.com berawal dari seorang WNI yang melakukan kontak langsung dengan WNA asal Jepang yang positif terkena virus. Sejumlah upaya dilakukan pemerintah untuk mencegah penularan semakin besar, mulai dari mengisolasikan diri hingga merawat pasien.
Tidak dapat dipungkiri bahwa menyebarnya Covid-19 ke Indonesia membawa pengaruh terhadap komunikasi masyarakat. Pandemi yang sudah terlanjur menyebar ke seluruh dunia ini menyebabkan berbagai aktivitas komunikasi terganggu. Pemerintah memberikan untuk tidak ada lagi kumpul-kumpul, para pengelola perguruan tinggi terpaksa harus memindahkan pembelajaran dari ruang kelas ke ruang-ruang virtual untuk memudahkan melakukan komunikasi dengan jarak jauh.
Tatkala masyarakat terpaksa harus keluar rumah dengan alasan memiliki tujuan yang mengharuskan keluar rumah, mereka mengharuskan menerapkan Social Distancing dengan menjaga jarak saat berinteraksi serta membatasi digunakannya fasilitas umum. 
Himbauan social distancing diterapkan untuk memerangi penyebaran Covid-19 yang merupakan intruksi WHO, karena Covid-19 sangat mudah menular melalui tetesan air atau percikan air yang dikeluarkan melalui bersin dan juga batuk. Maka social distancing diterapkan sebagai penanganan cepat medis dan kesehatan masyarakat Covid-19 di Indonesia. 
Ketidak biasaan peraturan dan kondisi akibat dari pandemi yang ada membuat masyarakat cemas, karena kondisi berbeda dari biasanya. Dengan demikian, diharapkan dengan adanya kondisi berbeda yang dihadapi, tidak membuat kita cemas.  

Oleh: Ahmad Padilah

Komentar