Langsung ke konten utama

Historis komunikasi massa

MAKALAH 
KOMUNIKASI MASSA
“HISTORIS KOMUNIKASI MASSA”
Dosen Pengampu: 
Ust. Alim Puspianto M.Kom
  
Oleh:
Ahmad Padilah
Ahmad Jamidin

PROGRAM STUDY
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
JURUSAN DAKWAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL-HAKIM SURABAYA
2020






BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komunikasi massa yaitu komunikasi yang penyebarannya menggunakan media massa, dengan khalayak yang bersifat heterogen (meluas dan menyeluruh) dan isi pesan bersifat umum serta terdapat gatekeeper (pengontrol pesan). Bentuk media massa antara lain media elektronik (radio, televisi), media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), buku, film (flm bioskop dan bukan negatif film yang dihasilkan kamera), serta internet namun tergantung dari situs (Nurudin, 2011:4-5) Pada komunikasi massa juga terdapat fungsi-fungsi, namun dalam membicarakan hal tersebut ada satu hal yang perlu disepakati terlebih dahulu.
Ketika sedang membicarakan fungsi komunikasi massa yang harus ada dalam benak adalah juga sedang membicarakan fungsi media massa, karena komunikasi massa artinya komunikasi melalui media massa. Ini berarti, komunikasi massa tidak akan ditemukan maknanya tanpa menyertakan media massa sebagai elemen terpenting dalam komunikasi massa (Nurudin, 2011:63). Fungsi komunikasi massa menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney dalam Nurudin (2011:64) antara lain: (1) to inform (menginformasikan), (2) to entertain (memberi hiburan), (3) to persuade (membujuk), dan (4) transmission of the culture (transmisi budaya). Sebuah media massa dalam komunikasi massa, harus dapat memberikan informasi kepada khalayak, dengan menyajikan fakta-fakta dalam sebuah berita maupun film. Fungsi sebagai penghibur tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak, dengan menyajikan program yang bersifat entertainment.
Selain itu, mampu menunjukkan mana etika yang baik dan tidak baik. Misal pemberitaan tentang kasus korupsi yang 2 selalu di beritakan negatif, di sini media massa sedang menawarkan etika lain bahwa korupsi itu tidak baik, hal tersebut mengandung persuasi. Terakhir adalah transmisi budaya, yang mempunyai dampak pada penerimaan individu. Media massa memperkuat nilai masyarakat dengan menampilkan berita atau tayangan seperti, ketika ada bencana masyarakat harus saling membantu.
BAB II 
PEMBAHASAN
Sejak awal, para ahli komunikasi tidak sependapat dengan model komunikasi yang ditawarkan karena model-model ini tidak memasukkan media sebagai sesuatu yang penting dari tiga dimensi tersebut, akibatnya para ahli komunikasi yang muncul sekitar tahun 1960-an mengkritisi dan memperbaiki model komunikasi dengan mengikutsertakan media.1 Pada umumnya, para ahli yang di kritik lantaran tidak memasukkan media dalam analisis model komunikasi berasumsi bahwa proses komunikasi manusia dilakukan secara artifisial melalui saluran penyuaraan pesan (vokalisasi), bahasa isyarat (gestures), terkadang pula melalui tulisan dan tulisan. Pada tahapan ini, kita patut berutang pada orang Roma dengan bahasa Romawi kuno karena telah mengurai “komunikasi” dari akar kata communicare yang pada masa ini dipahami sebagai sistem pos terpusat untuk mengendalikan rangkaian subsistem berperan menyebarluaskan informasi dari pusat kekaisaran Romawi ke pelbagai penjuru provinsi yang tersebar luas di bentangan Eropa hingga ke Timur Tengah.2 Sekurang-kurangnya ada empat catatan historis tentang perkembangan media, yakni yang pertama, era masyarakat tribal (the tribal age). Di era ini, komunikasi media dimediasi melalui komunikasi lisan (oral communication) karena masyarakat umumnys terikat dengan budaya lisan (oral culture) sehingga yang berperan di sini ialah storytelling yang mengandalkan keterlibatan pemikiran intuitif dan holistis. Ada empat karakteristik komunikasi lisan, yaitu: 1 Alo Liliweri, Komunikasi: Serba Ada Serba Makna (Jakarta: Kencana, 2011), 872 2 Ibid 52 1. Mengandalkan emosi di saat berkomunikasi lisan, terutama pada waktu mendengarkan (sense of hearing), diiringi rangkulan tangan serta di kening atau hidung, dan selalu berusaha menciptakan suasana batin yang aman. 2. Komunikasi antarpersonal sangat mengutamakan keterlibatan (encourages high involvement), misalnya menyatakan sikap simpati dan empati kepada sesama. 3. Memotivasi pendengar bahwa apa yang diceritakan itu penting (importance of stories). 4. Komunikasi selalu memperhatikan interaksi personal (personal interaction and attention). Kedua, era masyarakat tulis (the age of literacy). Di era ini, komunikasi manusia dimediasi oleh tulisan yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip bangunan logika. Ada empat karakteristik dari era masyarakat tulis, yakni: 1. Sangat didominasi oleh komunikasi visual. 2. Mendorong permenungan pribadi ketimbang melibatkan kelompok. 3. Memperkenalkan logika, cara berpikir linear. 4. Matematika, sains, filsafat. Ketiga, era percetakan (the print age). Di era ini, komunikasi antarmanusia menekankan pada cetakan visual yang berpusat pada galaksi Guttenberg. Di sini peranan mata sangat dominan, cara berpikir linear, status sains semakin diperhitungkan, serta munculnya sikap individual. Karakteristik era ini berkaitan dengan: 1. Penyebarluasan visualisasi secara bebas. 2. Melakukan konversi tulisan perorangan ke teknik cetakan. 3. Standardisasi bahasa nasional sebagai syarat membangun nasionalisme. 53 4. Mempertahankan prototipe revolusi industri.
A. Komunikasi Tulisan Cetak
  Setelah era komunikasi tulisan ini muncullah era komunikasi cetak. Pada saat itu Gunternberg menemukan mesin cetak. Konon katanya Gustenberg menemukan mesin press ini untuk mencetak injil, dalam ruang linkup sempit. Kenapa? Karena pada saat itu belum banyak orang yang bisa baca.
  Akan tetapi lama kelamaan mesin cetak itu dipakai. Pada tahun 1833, ketika Bunyamin Day meluncurkan surat kabar New York Sun, yang digunakan secara besar-besaran (masal) disambung pada tahun 1839 Daguerre melakukan praktek photografinya untuk digunakan dalam koran. Dahulu, sebelum mesin cetak muncul dan berkembang, perkembangan informasi berjalan sangat lambat. Buku-buku bacaan hanya tersedia dalam jumlah yang sangat terbatas, sehingga tidak semua orang bisa memiliki buku. Hal ini karena pada zaman dahulu, teknologi untuk memperbanyak buku dilakukan secara manual, yaitu dengan tangan. Selain kemunculan mesin cetak, perkembangan media cetak didukung oleh meningkatnya tingkat kemampuan orang.
untuk membaca dan mengerti berbagai jenis informasi. Sebenarnya perkembangan teknologi percetakan sangat menentukan arah perkembangan media cetak itu sendiri. Semakin maju perkembangannya, maka hasilnya tentu akan semakin bagus.
  Masalah yang ada akan harus bisa dihilangkan atau paling tidak dikurangi dengan kemunculan sebuah teknologi baru. Jika tidak ada perubahan yang dihasilkan, maka tidak ada artinya suatu teknologi diciptakan.


B. komunikasi isyarat
Dalam buku Cultural and Communication Studies, Sebuah Pengantar Paling Komprehensif, Fiske (Iriantara, 2014:24) mengatakan bahwa komunikasi non verbal adalah semua ekspresi eksternal selain kata-kata terucap dan tertulis (spoken and written word), termasuk gerak tubuh, karakteristik penampilan, karakteristik suara, dan penggunaan ruang dan jarak. Menurut Samovar dan Porter (Mulyana, 2010:343), komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan dimana seseorang mengirim pesan non verbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna bagi orang lain. Menurut Wood (dalam Iriatara, 2014:27), menyebut ada tiga fungsi komunikasi non verbal, yaitu komunikasi non verbal: a. Melengkapi komunikasi verbal. i 17 b. Mengatur interaksi c. Membangun relasi tingkatan makna, yang pada dasarnya terdiri dari tiga dimensi-dimensi primer relasi tingkat makna, yaitu responsifitas, menunjukkan suka dan tidak suka serta kekuasaan atau kontrol. Bahasa isyarat masuk dalam kelompok komunikasi non verbal dan non vokal dimana dalam penyampaian pesan tidak memberikan suara tetapi lebih memberikan isyarat dengan menggunakan tangan, gerakan tubuh, penampilan serta ekspresi wajah. Isyarat tangan kadang-kadang menggantikan komunikasi verbal. Penyandang Tunarungu menggunakan suatu sistem isyarat tangan yang amat komprehensif sehingga dapat menggantikan bahasa lisan secara harfiah (Tubbs dan Moss, 2008:137).






BAB III
PENUTUP
Sebuah aktivitas komunikasi yang sudah ada dari dahulu selalu mengalami perubahan dan pengembangan dari masa ke masa




DAFTAR PUSTAKA
https://pakarkomunikasi.com/komunikasi-lisan
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/36756/1/DIYAH%20KARDINI%20MAULIDA-FDK.pdf
http://digilib.uin-suka.ac.id/16692/2/11730003_bab-i_iv-atau-v_daftar-pustaka.pdf
https://mahasiswa.ung.ac.id/291415007/home/2016/10/18/empat-era-komunikasi-era-komunikasi-tulisan-cetak-teknologi-dan-interaktif-4-era-komunikasi.html

















Komentar